#5 - Opini Hitam Putih PJJ


Penugasan Jarak Jauh,
TANGGUNG JAWAB SIAPA?
Oleh Kami, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari berbagai generasi.
            Sabtu (28/3), berdasarkan surat edaran Kemendikbud nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran coronavirus disease (covid-19) dimana proses belajar-mengajar diadakan sepenuhnya di rumah, sore tadi HMI Distrik PBSI telah mengadakan diskusi terkait hal tersebut. CO-19 bukan hanya berdampak pada bidang kesehatan dan ekonomi, namun juga pada bidang pendidikan.
            Indonesia belum sepenuhnya siap dalam menghadapi pergantian situasi skala besar seperti ini. Hal tersebut terbukti melalui sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang belum disosialisasikan dengan baik kepada tenaga pengajar maupun pelajar. Karenanya, terjadi disorientasi seperti anggapan bahwa guru hanya membuka dan menutup kelas tanpa adanya evaluasi, mahasiswa merasa dibebani banyak tugas tanpa adanya bimbingan, banyak yang belum mengetahui tata cara menggunakan literasi digital yang kemudian menimbulkan permasalahan teknis dan berdampak pada ketidakefektifan proses belajar-mengajar, serta tidak terpusatnya pembelajaran. Mengapa sosialisasi sejenis workshop sangat dibutuhkan, “karena dengan penambahan waktu masa darurat, semua elemen dipaksa harus cepat beradaptasi” (Rizky Adhitya).
            Oleh karena itu, pengajar dituntut untuk melakukan improvisasi pengajaran, menjadi manager pembelajaran, menjadi fasilitator sekaligus sebagai motivator siswa. Dalam hal ini, karakter guru kreatif sangat dibutuhkan. Ada beberapa catatan untuk tenaga pengajar yang kemudian dapat dilihat dan digarisbawahi dalam melakukan PJJ ini, diantaranya:
1.  Membuat juknis dengan teknis yang jelas, pengajar dapat membuat modul pembelajaran yang sederhana atau LK (Lembar Kerja) dan tetap mengikuti kurikulum agar pelajar dapat memahami pelajaran dirumah dengan baik. “Saya pikir, dua hal itu sangat penting untuk bekal PJJ” (Buyung Firmansyah).
2.   Menerapkan metode yang beragam, hal ini ditujukan agar tidak kehilangan respon dan minat siswa dalam belajar. Pengajar dapat memanfaatkan aplikasi pembelajaran seperti zoom, google classroom, hangout meet, quizziz, g-form, kahoot, brainly, RG, quipper,  atau media daring lainnya.
3.    Peningkatan literasi digital, dengan cara memilah bahan bacaan melalui perpustakaan digital dan lain-lain.
4.   Melakukan evaluasi, hal ini dirasa sangat penting untuk menjadi acuan pembelajaran kedepannya dengan catatan setiap evaluasi tetap dalam bimbingan pengajar.
5.  Mengetahuhi latar belakang siswa. ”Hal ini menjadi pertimbangan dalam proses PJJ. Melihat bagaimana kesiapan para orangtua dalam akses mereka terhadap teknologi, pola pekerjaan mereka, serta tingkat pendidikan mereka” (Rizky Adhitya).
6.     Bersikap interaktif dan terbuka dengan tidak membebani para siswa.

       Bukan hanya pengajar yang memiliki tanggung jawab besar dalam PJJ ini, peran pelajar juga berdampak pada prosesnya. Pelajar diimbau untuk tidak sekedar mengerjakan setiap tugas yang diberikan, namun juga harus dapat menyaring informasi sebanyak-banyaknya diluar kelas. Media yang dapat digunakan yaitu dengan mengikuti diskusi online, aktif bertanya kepada pengajar maupun orang tua, banyak membaca, dan tetap melakukan tugas dengan tidak menganggapnya sebagai formalitas saja. Pemerintah dalam hal ini diminta untuk tetap berperan aktif dalam mengawasi kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), juga berupaya agar para tenaga pendidikan tetap terfasilitasi dengan baik. Salah satunya yaitu dapat dilakukan dengan cara membuat portal pembelajaran yang dapat diakses dengan mudah dan tentunya gratis.
       “Tujuan PJJ yang menjadi panduan dari kemendikbud hari ini adalah mendorong kolaborasi orangtua, guru, dan murid untuk berdaya belajar dalam menghadapi situasi darurat akibat wabah virus corona” (Rizky Adhitya).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#4 - OTW Dikasih Judul